Miss Comel
Miss Comel*
Oleh: Ika Maya Susanti
She is sooo nice. Tapi…
siapapun yang kenal sama Atri mungkin mengakui dan nggak tahan sama kekurangannya
yang satu itu. Eit, lebih baik aku beberin dulu deh kebaikan-kebaikannya. Atri,
temanku yang satu itu suka baik sama semua orang. Cerdas di pelajaran sekolah,
suka menolong, dan perhatian lagi kalau sama siapapun. Tapi saking
perhatiannya... selalu ada saja comelan yang keluar sebagai komentarnya.
Misalnya nih kalau kita
lagi makan di foodcourt, nggak pernah dia sampai kehabisan bahan untuk kritikannya.
Seperti... “Ya ampun, tuh orang nggak ngaca apa tadi sebelum ke sini. Ini kan
tempat makan, bukan ajang berharajuku ria!” Atau... “Astaga, suaminya cakep
banget tapi kok bisa ya istrinya pendek item kayak gitu.”
Itu masih mending. Yang
lebih parah lagi kayak kemarin pas Rina ulang tahun. Udah dibela-belain Rina
untuk bawa cake ke sekolah, eh, masih dikomentarin dengan cara yang pedes.
“Hoak, masa ultah bawanya cake rasa durian. Siapa sih yang suka! Rin, besok
lagi bawa blackforest kek, kan itu lebih bagus. Masa zaman gene mau nentang
trend cake blackforest sama rasa duren!”
Mm, ya kalau
dipikir-pikir, emang Rinanya juga sih yang ajaib. Tapi Atri juga nggak kalah kebangetannya.
Kalaupun nggak suka, yah, jangan diomongin kan?! Dan kalau diitung-itung waktu
itu, banyak juga kok teman-teman yang suka sama cake yang dibawa Rina. Siapa
sih yang nggak mau cake gratisan! Tapi bukan sampai di situ saja masalahnya.
Pasalnya, itu cake selain rasa favorit yang disuka Rina, cake itupun udah
dibuatnya susah payah hasil kreasi sendiri. Mana jauh-jauh hari Rina sudah
ngebelain untuk kursus singkat membuat cake lagi.
Buntutnya kalau udah kayak
gitu, akulah yang ikut-ikutan dipelototin sama anak-anak. “Temanmu itu lho,
bisa direhabilitasikan nggak sih mulutnya!” itu bisikan pedas dari Rio.
Bayangkan, cowok saja sampai illfil sama Atri. Tragisnya, itu cowok yang selama
ini dilirik sama Atri. Ditambah, aku juga yang kecipratan harus meredam
kesedihan Rina akibat ulah Atri.
Janan dikiran aku sendiri nggak
pernah ngerasain errornya ulah si Atri. Ceritanya pas gini nih, aku mau pinjam
kamus Bahasa Mandarin ke Nadia karena kebetulan belum sempat beli. Soalnya
model kamus yang lengkap kayak punya Nadia itu mahal banget. Eh, ternyata nggak
dipinjemin sama Nadia. Alasannya, karena kamus itu baru dan takut kalau ntar
rusak atau hilang.
Terang aja aku dongkol
dong! Jadilah aku ngomel dan curhat habis-habisan di depan Atri. Dasar Atri,
langsung dia bangkit dan ganti ngomel balik di depan Nadia. Parahnya pakai
ngungkit-ngungkit omelanku yang udah aku keluarin di depan Atri tentang Nadia.
Bisa ditebak kan, mulai detik itu aku dan Atri jadi dimusuhin sama Nadia. Nggak
tanggung-tanggung, sampai kita naik kelas euy! Untung aja sejak itu kita nggak
satu kelas lagi. Cuma dari peristiwa itu, aku jadi belajar satu hal, kalau
dongkol, mending jangan diaduin di depan Atri deh. Bisa lebih berabe jadinya.
Heah, pokoknya kalau
ngajak si Atri ini nongkrong dimanapun, kadang emang nggak nguatin sama
celometannya. Teman-teman saja sebetulnya pada heran. Kok bisa aku selama itu
menjadi teman dekat Atri. Cuman kalau ditodongin kayak gitu aku sih bela diri
saja, “Yah, no body’s perfect. Isn’t it? Masa kalau ada teman kita yang punya
kekurangan, terus kita jauhin gitu aja. Nggak fair kan?!”
Atau kalaupun bukan
berbentuk larangan, mereka pun kemudian menganjurkanku untuk merubah kebiasaan
Atri. Ya terang aku jawab aja, “Hi gals, i’m not God! Apa iya semudah itu
merubah dan menghapus kebiasaan orang!”
Meskipun dalam hati
kecilku sih, sebetulnya aku begitu berharap sometimes, Atri temanku itu dapat
merubah. Habisnya udah dibilangin pun, si Atri ini malahan ngajak debat sih.
Selalu ujung-ujungnya dia ngebela diri dengan, “Lho, emang kenyataannya kayak
begitu kan. Orang itu harus diberitahu biar dia jadi ngerti. Coba kalau
didiemin aja, dia nggak ngerti dong kalau ada orang lain yang nggak suka!”
Hihi, gayanya tuh. Padahal
kalau dia sendiri dikritik tentang kekurangannya, ya... kebiasaannya yang
tukang mencomel itu, dia pasti nggak suka. Akhirnya, bernasib kayak aku yang
malah diajak berdebat terus. Males deh ngingetin mulu!
Tapi semuanya sedikit
berubah sejak hari itu. Coba tebak, apa yang bisa menaklukkan kebiasaan comelan
Atri? Dari Atri yang tukang bawel, jadi Atri yang pendiam. Pokoknya Roro Anteng
deh. Hayo tebak...??? Kita aja selama ini sampai berpikir, imposible deh
kayaknya kalau nyuruh si Atri jadi anteng!
Tapi ini beneran Gals!
Karena kecomelan si Atri ini bisa kalah sama yang namanya... sariawan!
Ketahuannya waktu itu seperti ini...
Nggak biasa-biasanya waktu
itu, Atri yang biasanya hobi banget makan bakso dengan resep tambahan tiga
sendok makan sambel, merubah kebiasaannya. Udah gitu pas kita makan di kantin,
nih anak yang hobinya ngecomel ini dan itu, berubah jadi anteng. Akunya jadi
takjub dong!
“Tumben...” cuma kata itu
yang keluar dari mulutku saat Atri diam semilyar bahasa di depanku. Dengan
tampang memelas, dilihatnya keasyikanku yang makan semangkuk bakso dengan
lahap.
Jawaban yang kuterima cuma
senyum masam dari Atri. Pokoknya kalau dideskripsikan, Atri seperti orang
separuh nyawa deh. Hehe, jadi kayak lagunya Dewa!
“Lagi sariawan,” jawab
pendek Atri.
Kemudian Atri membuka
mulutnya dan menunjukkan bagian dinding mulutnya sebelah kiri. Kulihat, ada lubang
putih besar seujung jari nampak menganga di sana.
“Ya ampun, kok bisa segede
itu. Emangnya kurang kerjaan apa sampai mulut sendiri digigitin,” kataku usil
yang membuat Atri melotot kesal.
Aku jadi tersenyum geli
sambil berkali-kali minta maaf. “Iya deh sori. So, gimana ceritanya sampaik ayak
gitu?”
“Seharian kemarin... aku
sering kegigit terus... sendiri. Nggak peduli... pas makan atau ngomong. Uph
sakitnya...!” keluh Atri yang bicara terputus-putus sambil menahan perih
sariawannya.
Kupandangi wajah sahabatku
yang sebetulnya cukup manis itu dengan rasa iba. Habisnya, Atri jadi sering
tahu-tahu menangis sendiri saking menahan perih sakit sariawannya.
Tiba-tiba, aku jadi
teringat mitos yang sering diucapkan oleh nenekku. Konon katanya sih, kalau kita
kegigit di mulut sebelah kiri itu, tandanya lagi ada orang yang ngomongin nggak
enak tentang kita. Tapi kalau kayak kasusnya si Atri ini, yang bisa kegigit
beberapa kali dalam sehari, apa iya karena banyak orang yang kesal akibat
omongan pedas Atri? Akhirnya mereka jadi ngomongin yang jelek-jelek tentang
Atri di belakang?
Aku langsung menggeleng
cepat. Walah, otakku ini udah keracunan karena kebanyakan nonton sinetron
gituan kali ya!
“Kenapa?” Atri kebingungan
melihatku yang menggeleng-gelengkan kepala sendirian.
“Oh eh, nggak. Cuma inget
aja kata nenekku. Katanya sih, kalau kita kegigit di mulut sebelah kiri, itu
tandanya lagi ada orang yang ngomongin jelek tentang kita. Hehehe, aalah, mitos
kan kayak gitu itu,” aku mencoba menghibur Atri. Meski pun dia suka banget
bikin orang sakit hati, termasuk aku kadang, tapi sebagai sohibnya, aku nggak
bisa dong ngebalas seperti itu juga.
“Mm, iya kali. Aku udah...
kebanyakan dosa. Nyakitin... perasaan orang... terus,” Atri nampak menyesal.
“Eh udah ah, nggak usah
diambil pusing. Yuk, baksoku udah habis. Kita balik ke kelas aja deh ya,” aku
segera mengalihkan pikiran Atri.
Dan ternyata, yang
merasakan antengnya si Atri ini nggak cuma aku aja lho. Yang bikin aku takjub,
hampir semua teman-teman merasakan hal yang sama. Kebanyakan dari mereka pun
akhirnya bisik-bisik bertanya ke aku. “Atri kenapa sih?” tanya mereka
bisik-bisik takut ketahuan Atri selain takut juga kalau ntar dicomelin lagi.
Dan dengan sabarnya,
seperti laiknya juru bicara kepresidenan yang telaten menjawab pertanyaan demi
pertanyaaan, kesalnya pertanyaaannya sama semua tuh, ya aku jawab sama kalau,
“Atri lagi sariawan.”
Komentar teman-teman emang
macam-macam. Ada yang ngerasa bersyukur karena terbebas dari omelan Atri, ada
yang menyukuri karena selama ini cukup mendendam kekesalan kepada Atri, dan ada
juga yang masih punya nurani dengan mengasihani.
Sikap berubah Atri ini
sampai-sampai dirasakan juga lho oleh para guru. Kebanyakan sih, para guru ngerasa
sedih karena biasanya murid mereka yang kritis, tiba-tiba sepeti hilang ditelan
bumi.
Misalnya waktu jam
pelajaran Bu Noni yang ngajar pelajaran Sejarah. Meski ibu guru satu ini
terkenal cukup galak, tapi dia paling suka kalau Atri mulai kritis bertanya ini
itu sama hal-hal yang menurut Atri dianggapnya janggal.
“Maaf, Atri nggak masuk
ya?” wajah Bu Noni celingukan mencari sebentuk wajah Atri yang sedang puasa
bicara. Begitu tahu kalau Atri masuk dan sedang sariawan sehingga hemat
berbicara, para guru ini pun kebanyakan mendoakan semoga Atri lekas sembuh.
Pokoknya jadi terharu deh. Ternyata, ada juga lho yang sedih kalau Atri berubah
menjadi Roro Anteng.
Memang yang aku salut,
apapun perasaan teman-teman terhadap Atri, mereka justru tetap bersikap baik ke
Atri. Malahan, lebih baik dari hari-hari biasanya. Misalnya kayak si Rio yang
malahan muji Atri seperti ini, “Wah Atri, kalau anteng kayak gini, kamu jadi
lebih cakep deh. Suer, aku nggak ngegombal lho!”
Yang dipuji sayangnya cuma
senyum-senyum saja. Nggak bisa balas, nggak bisa berkomentar balik, cuma
membalas dengan senyuman manis.
Hari berganti hari. Nggak
sampai seminggu, sariawan Atri pun sembuh. Uniknya, aku dan teman-teman baru
menyadari beberapa minggu kemudian. Karena tanpa kita semua sadari, diam-diam,
ada yang berubah pada diri Atri.
“Kenapa sih kamu dari tadi
ngelihatin aku melulu. Nggak lagi kelainan kan? Nggak lagi naksir aku kan?”
Atri menyelidik sambil salah tingkah.
Emang sih, siapa juga yang
nggak curiga kalau diliatin terus sambil senyum-senyum sama orang yang juga
sejenis, sama-sama cewek maksudnya.
“Iya, benar kata Rio. Kamu
kok sekarang berubah ya. Kalau kata si Rio sih, kamu sekarang jadi lebih
manis,” sahutku kalem.
“Ah, masa sih,” cuma itu
tanggapan Atri.
“Beneran, jadi The Truly
Roro Anteng nih!” timpalku lagi.
“Yah, orang kan bisa dan
boleh berubah Fay.”
“Tapi... kok kamu jadi
nggak asyik lagi sih,” komentarku jujur. Emang beneran, sejak Atri berubah jadi
lebih anteng, aku ngerasa seperti kehilangan Atri yang dulu. Kayak temenan sama
orang asing gitu deh rasanya.
“Terus, pengen aku berubah
jadi Miss Comel lagi?” tantang Atri. “Kalaupun iya, ya maaf Fay, aku udah nggak
mau lagi.”
Aku jadi tertarik. “Emang
kenapa?”
“Begini Fay, berdasarkan
hasil perenunganku, kok aku ngerasa ternyata teman-teman jadi lebih bersikap
baik deh ke aku. Rasanya dunia ini seketika berubah jadi tenang dan damai ku
rasa.”
“Deu, sok puitis!” ejekku
gemas.
Atri mengiabskan
tangannya. “Tapi beneran lho. Dan satu lagi alasan yang bikin aku tobat. Mau
tahu nggak?”
Wah apaan nih? Jadi penasaran!
Apa iya karena si Atri yang sebenarnya naksir Rio dari dulu pengen berubah jadi
cewek idaman Rio betulan? Tapi ternyata, bukan itu teman-teman jawabannya.
“Soalnya... aku nggak
pengen lagi sariawan karena kalian ngomongin aku di belakang. Sakitnya tuh
bukan karena diomonginnya itu. Tapi ngerasain sariawan itu emang nggak enak
lagi! Apalagi kalau pas makan bakso. Hpf, siapa yang tahan nggak bisa nambah
tiga sendok sambal” gerutu Atri yang bikin aku ber-Ooo ria.
*) cerpen ini dimuat di majalah Kawanku No. 05-2007 terbit 29 Januari-4 Februari 2007

Recent Comments