January 29, 2007

Miss Comel

Miss Comel*

Oleh: Ika Maya Susanti

 She is sooo nice. Tapi… siapapun yang kenal sama Atri mungkin mengakui dan nggak tahan sama kekurangannya yang satu itu. Eit, lebih baik aku beberin dulu deh kebaikan-kebaikannya. Atri, temanku yang satu itu suka baik sama semua orang. Cerdas di pelajaran sekolah, suka menolong, dan perhatian lagi kalau sama siapapun. Tapi saking perhatiannya... selalu ada saja comelan yang keluar sebagai komentarnya.

 Misalnya nih kalau kita lagi makan di foodcourt, nggak pernah dia sampai kehabisan bahan untuk kritikannya. Seperti... “Ya ampun, tuh orang nggak ngaca apa tadi sebelum ke sini. Ini kan tempat makan, bukan ajang berharajuku ria!” Atau... “Astaga, suaminya cakep banget tapi kok bisa ya istrinya pendek item kayak gitu.”

 Itu masih mending. Yang lebih parah lagi kayak kemarin pas Rina ulang tahun. Udah dibela-belain Rina untuk bawa cake ke sekolah, eh, masih dikomentarin dengan cara yang pedes. “Hoak, masa ultah bawanya cake rasa durian. Siapa sih yang suka! Rin, besok lagi bawa blackforest kek, kan itu lebih bagus. Masa zaman gene mau nentang trend cake blackforest sama rasa duren!”

 Mm, ya kalau dipikir-pikir, emang Rinanya juga sih yang ajaib. Tapi Atri juga nggak kalah kebangetannya. Kalaupun nggak suka, yah, jangan diomongin kan?! Dan kalau diitung-itung waktu itu, banyak juga kok teman-teman yang suka sama cake yang dibawa Rina. Siapa sih yang nggak mau cake gratisan! Tapi bukan sampai di situ saja masalahnya. Pasalnya, itu cake selain rasa favorit yang disuka Rina, cake itupun udah dibuatnya susah payah hasil kreasi sendiri. Mana jauh-jauh hari Rina sudah ngebelain untuk kursus singkat membuat cake lagi.

 Buntutnya kalau udah kayak gitu, akulah yang ikut-ikutan dipelototin sama anak-anak. “Temanmu itu lho, bisa direhabilitasikan nggak sih mulutnya!” itu bisikan pedas dari Rio. Bayangkan, cowok saja sampai illfil sama Atri. Tragisnya, itu cowok yang selama ini dilirik sama Atri. Ditambah, aku juga yang kecipratan harus meredam kesedihan Rina akibat ulah Atri.

 Janan dikiran aku sendiri nggak pernah ngerasain errornya ulah si Atri. Ceritanya pas gini nih, aku mau pinjam kamus Bahasa Mandarin ke Nadia karena kebetulan belum sempat beli. Soalnya model kamus yang lengkap kayak punya Nadia itu mahal banget. Eh, ternyata nggak dipinjemin sama Nadia. Alasannya, karena kamus itu baru dan takut kalau ntar rusak atau hilang.

 Terang aja aku dongkol dong! Jadilah aku ngomel dan curhat habis-habisan di depan Atri. Dasar Atri, langsung dia bangkit dan ganti ngomel balik di depan Nadia. Parahnya pakai ngungkit-ngungkit omelanku yang udah aku keluarin di depan Atri tentang Nadia. Bisa ditebak kan, mulai detik itu aku dan Atri jadi dimusuhin sama Nadia. Nggak tanggung-tanggung, sampai kita naik kelas euy! Untung aja sejak itu kita nggak satu kelas lagi. Cuma dari peristiwa itu, aku jadi belajar satu hal, kalau dongkol, mending jangan diaduin di depan Atri deh. Bisa lebih berabe jadinya.

 Heah, pokoknya kalau ngajak si Atri ini nongkrong dimanapun, kadang emang nggak nguatin sama celometannya. Teman-teman saja sebetulnya pada heran. Kok bisa aku selama itu menjadi teman dekat Atri. Cuman kalau ditodongin kayak gitu aku sih bela diri saja, “Yah, no body’s perfect. Isn’t it? Masa kalau ada teman kita yang punya kekurangan, terus kita jauhin gitu aja. Nggak fair kan?!”

 Atau kalaupun bukan berbentuk larangan, mereka pun kemudian menganjurkanku untuk merubah kebiasaan Atri. Ya terang aku jawab aja, “Hi gals, i’m not God! Apa iya semudah itu merubah dan menghapus kebiasaan orang!”

 Meskipun dalam hati kecilku sih, sebetulnya aku begitu berharap sometimes, Atri temanku itu dapat merubah. Habisnya udah dibilangin pun, si Atri ini malahan ngajak debat sih. Selalu ujung-ujungnya dia ngebela diri dengan, “Lho, emang kenyataannya kayak begitu kan. Orang itu harus diberitahu biar dia jadi ngerti. Coba kalau didiemin aja, dia nggak ngerti dong kalau ada orang lain yang nggak suka!”

 Hihi, gayanya tuh. Padahal kalau dia sendiri dikritik tentang kekurangannya, ya... kebiasaannya yang tukang mencomel itu, dia pasti nggak suka. Akhirnya, bernasib kayak aku yang malah diajak berdebat terus. Males deh ngingetin mulu!

 Tapi semuanya sedikit berubah sejak hari itu. Coba tebak, apa yang bisa menaklukkan kebiasaan comelan Atri? Dari Atri yang tukang bawel, jadi Atri yang pendiam. Pokoknya Roro Anteng deh. Hayo tebak...??? Kita aja selama ini sampai berpikir, imposible deh kayaknya kalau nyuruh si Atri jadi anteng!

 Tapi ini beneran Gals! Karena kecomelan si Atri ini bisa kalah sama yang namanya... sariawan! Ketahuannya waktu itu seperti ini...

 Nggak biasa-biasanya waktu itu, Atri yang biasanya hobi banget makan bakso dengan resep tambahan tiga sendok makan sambel, merubah kebiasaannya. Udah gitu pas kita makan di kantin, nih anak yang hobinya ngecomel ini dan itu, berubah jadi anteng. Akunya jadi takjub dong!

 “Tumben...” cuma kata itu yang keluar dari mulutku saat Atri diam semilyar bahasa di depanku. Dengan tampang memelas, dilihatnya keasyikanku yang makan semangkuk bakso dengan lahap.

 Jawaban yang kuterima cuma senyum masam dari Atri. Pokoknya kalau dideskripsikan, Atri seperti orang separuh nyawa deh. Hehe, jadi kayak lagunya Dewa!

 “Lagi sariawan,” jawab pendek Atri.

 Kemudian Atri membuka mulutnya dan menunjukkan bagian dinding mulutnya sebelah kiri. Kulihat, ada lubang putih besar seujung jari nampak menganga di sana.

 “Ya ampun, kok bisa segede itu. Emangnya kurang kerjaan apa sampai mulut sendiri digigitin,” kataku usil yang membuat Atri melotot kesal.

 Aku jadi tersenyum geli sambil berkali-kali minta maaf. “Iya deh sori. So, gimana ceritanya sampaik ayak gitu?”

 “Seharian kemarin... aku sering kegigit terus... sendiri. Nggak peduli... pas makan atau ngomong. Uph sakitnya...!” keluh Atri yang bicara terputus-putus sambil menahan perih sariawannya.

 Kupandangi wajah sahabatku yang sebetulnya cukup manis itu dengan rasa iba. Habisnya, Atri jadi sering tahu-tahu menangis sendiri saking menahan perih sakit sariawannya.

 Tiba-tiba, aku jadi teringat mitos yang sering diucapkan oleh nenekku. Konon katanya sih, kalau kita kegigit di mulut sebelah kiri itu, tandanya lagi ada orang yang ngomongin nggak enak tentang kita. Tapi kalau kayak kasusnya si Atri ini, yang bisa kegigit beberapa kali dalam sehari, apa iya karena banyak orang yang kesal akibat omongan pedas Atri? Akhirnya mereka jadi ngomongin yang jelek-jelek tentang Atri di belakang?

 Aku langsung menggeleng cepat. Walah, otakku ini udah keracunan karena kebanyakan nonton sinetron gituan kali ya!

 “Kenapa?” Atri kebingungan melihatku yang menggeleng-gelengkan kepala sendirian.

 “Oh eh, nggak. Cuma inget aja kata nenekku. Katanya sih, kalau kita kegigit di mulut sebelah kiri, itu tandanya lagi ada orang yang ngomongin jelek tentang kita. Hehehe, aalah, mitos kan kayak gitu itu,” aku mencoba menghibur Atri. Meski pun dia suka banget bikin orang sakit hati, termasuk aku kadang, tapi sebagai sohibnya, aku nggak bisa dong ngebalas seperti itu juga.

 “Mm, iya kali. Aku udah... kebanyakan dosa. Nyakitin... perasaan orang... terus,” Atri nampak menyesal.

 “Eh udah ah, nggak usah diambil pusing. Yuk, baksoku udah habis. Kita balik ke kelas aja deh ya,” aku segera mengalihkan pikiran Atri.

 Dan ternyata, yang merasakan antengnya si Atri ini nggak cuma aku aja lho. Yang bikin aku takjub, hampir semua teman-teman merasakan hal yang sama. Kebanyakan dari mereka pun akhirnya bisik-bisik bertanya ke aku. “Atri kenapa sih?” tanya mereka bisik-bisik takut ketahuan Atri selain takut juga kalau ntar dicomelin lagi.

 Dan dengan sabarnya, seperti laiknya juru bicara kepresidenan yang telaten menjawab pertanyaan demi pertanyaaan, kesalnya pertanyaaannya sama semua tuh, ya aku jawab sama kalau, “Atri lagi sariawan.”

 Komentar teman-teman emang macam-macam. Ada yang ngerasa bersyukur karena terbebas dari omelan Atri, ada yang menyukuri karena selama ini cukup mendendam kekesalan kepada Atri, dan ada juga yang masih punya nurani dengan mengasihani.

 Sikap berubah Atri ini sampai-sampai dirasakan juga lho oleh para guru. Kebanyakan sih, para guru ngerasa sedih karena biasanya murid mereka yang kritis, tiba-tiba sepeti hilang ditelan bumi.

 Misalnya waktu jam pelajaran Bu Noni yang ngajar pelajaran Sejarah. Meski ibu guru satu ini terkenal cukup galak, tapi dia paling suka kalau Atri mulai kritis bertanya ini itu sama hal-hal yang menurut Atri dianggapnya janggal.

 “Maaf, Atri nggak masuk ya?” wajah Bu Noni celingukan mencari sebentuk wajah Atri yang sedang puasa bicara. Begitu tahu kalau Atri masuk dan sedang sariawan sehingga hemat berbicara, para guru ini pun kebanyakan mendoakan semoga Atri lekas sembuh. Pokoknya jadi terharu deh. Ternyata, ada juga lho yang sedih kalau Atri berubah menjadi Roro Anteng.

 Memang yang aku salut, apapun perasaan teman-teman terhadap Atri, mereka justru tetap bersikap baik ke Atri. Malahan, lebih baik dari hari-hari biasanya. Misalnya kayak si Rio yang malahan muji Atri seperti ini, “Wah Atri, kalau anteng kayak gini, kamu jadi lebih cakep deh. Suer, aku nggak ngegombal lho!”

 Yang dipuji sayangnya cuma senyum-senyum saja. Nggak bisa balas, nggak bisa berkomentar balik, cuma membalas dengan senyuman manis.

 Hari berganti hari. Nggak sampai seminggu, sariawan Atri pun sembuh. Uniknya, aku dan teman-teman baru menyadari beberapa minggu kemudian. Karena tanpa kita semua sadari, diam-diam, ada yang berubah pada diri Atri.

 “Kenapa sih kamu dari tadi ngelihatin aku melulu. Nggak lagi kelainan kan? Nggak lagi naksir aku kan?” Atri menyelidik sambil salah tingkah.

 Emang sih, siapa juga yang nggak curiga kalau diliatin terus sambil senyum-senyum sama orang yang juga sejenis, sama-sama cewek maksudnya.

 “Iya, benar kata Rio. Kamu kok sekarang berubah ya. Kalau kata si Rio sih, kamu sekarang jadi lebih manis,” sahutku kalem.

 “Ah, masa sih,” cuma itu tanggapan Atri.

 “Beneran, jadi The Truly Roro Anteng nih!” timpalku lagi.

 “Yah, orang kan bisa dan boleh berubah Fay.”

 “Tapi... kok kamu jadi nggak asyik lagi sih,” komentarku jujur. Emang beneran, sejak Atri berubah jadi lebih anteng, aku ngerasa seperti kehilangan Atri yang dulu. Kayak temenan sama orang asing gitu deh rasanya.

 “Terus, pengen aku berubah jadi Miss Comel lagi?” tantang Atri. “Kalaupun iya, ya maaf Fay, aku udah nggak mau lagi.”

 Aku jadi tertarik. “Emang kenapa?”

 “Begini Fay, berdasarkan hasil perenunganku, kok aku ngerasa ternyata teman-teman jadi lebih bersikap baik deh ke aku. Rasanya dunia ini seketika berubah jadi tenang dan damai ku rasa.”

 “Deu, sok puitis!” ejekku gemas.

 Atri mengiabskan tangannya. “Tapi beneran lho. Dan satu lagi alasan yang bikin aku tobat. Mau tahu nggak?”

 Wah apaan nih? Jadi penasaran! Apa iya karena si Atri yang sebenarnya naksir Rio dari dulu pengen berubah jadi cewek idaman Rio betulan? Tapi ternyata, bukan itu teman-teman jawabannya.

 “Soalnya... aku nggak pengen lagi sariawan karena kalian ngomongin aku di belakang. Sakitnya tuh bukan karena diomonginnya itu. Tapi ngerasain sariawan itu emang nggak enak lagi! Apalagi kalau pas makan bakso. Hpf, siapa yang tahan nggak bisa nambah tiga sendok sambal” gerutu Atri yang bikin aku ber-Ooo ria.

*) cerpen ini dimuat di majalah Kawanku No. 05-2007 terbit 29 Januari-4 Februari 2007

October 18, 2006

Puteri Tidur

 Dari kecil aku begitu terbiasa melihat kebiasaan ibu yang tidak seperti ibu dari teman-temanku lainnya. Ia selalu memutuskan meninggalkan pekerjaannya yaitu menulis dan membaca untuk kemudian pergi ke peraduan. Ia tak akan pernah benar-benar menuntaskannya, meninggalkan sejenak segala aktivitasnya, tidur, dan baru kembali melanjutkannya. Saat ibu tidur, sering kutemui ada buku dengan halaman terbuka di samping tempat tidurnya. Atau, ada pula tulisan yang terputus saat ia berangkat ke tempat peraduannya. Uniknya, di ambang batas tidurnya, ibu bisa tiba-tiba terjaga untuk melanjutkan sedikit aktivitas. Dan kemudian, ia akan benar-benar meneruskan lelapnya.

Ibuku seorang penulis cerita. Dari tangannya bisa berbuih-buih suara kisah mengalir milik tokoh-tokoh antah berantah terciptaa. Sebelum ia mempublikasikan karyanya, akulah pembaca pertamanya. Ia pun penulis idolaku sejak awal aku mengenal aksara.

Tidak hanya pada aktivitasnya dalam menulis atau membaca buku saja kebiasaan ibu untuk yang satu itu muncul. Ibu suka meninggalkanku dalam rasa penasaran ketika dongeng yang diceritakannya belum terputus. Biasanya, ibu suka menceritakan kembali tentang cerita novel yang sedang digarapnya padaku. Dan seperti kebiasaannya, ibu meninggalkanku dengan rasa penasaran pada dongeng dari novel yang belum berujung.

Seperti yang kini ia sedang lakukan. Akhir-akhir ini, ibu sering mendongengkan tentang kisah dari novel terbarunya. Ceritanya tentang seorang puteri cantik yang menunggu pangeran yang datang meminang. Tapi seperti biasanya, ibu suka sekali untuk meninggalkan rasa penasaran pada ambang kantukku berbatas. Ia memilih pergi ke peraduannya dan tidak meneruskan dongengnya.

 Ketika ku tanya, ibu tak pernah mau menjawab. Menurutnya seiring waktu, aku pasti akan bisa menemukan jawaban dari teka teki yang selalu membuatku penasaran. Hingga suatu ketika kejadian itu bermula.

 Malam itu aku terjaga dari tidur. Ada puteri kecil nakal yang bermain mengitari alam bawah sadarku. Ia adalah seorang puteri cantik dari istana khayalan ibu yang sering ia dongengkan padaku sebelum ku tidur. Seperti diriku yang penasaran akan kelanjutan cerita ibu, puteri kecil itupun menuntut rasa penasarannya padaku atas jalan cerita hidup yang seakan membuatnya terkutuk.

Aku bingung, karena sebetulnya bukanlah kesalahanku bila puteri itu masih belum juga bertemu dengan sang pangeran pujaannya. Ibu lah yang selalu enggan mengakhiri dongengnya. Walaupun di setiap akhir ibu mendongeng, aku selalu ingin tahu bagaimana cerita itu berpangkal. Namun ibu tak pernah menghiraukan. Kasihan, puteri cantik terus mendamba. Pangeran pujaannya terus mengembara. Mereka berdua tak kunjung bersua rupa. Kini, puteri itu datang. Mencariku, mengusikku, menuntutku untuk mempertemukan dirinya dengan sang pangeran pujaan.

 “Bantulah aku dengan cerita! Kapan aku bisa bertemu dengannya? Mengapa kisahku selalu terulur kata kisah dari sang pendongeng, dari ibumu jua? Apakah nikmat yang ia rasa?” usiknya menuntut pada suatu ketika di salah satu mimpi tidurku ketika terlelap.

 “Mengapa tak kau usik saja mimpi ibuku? Bukankah ia yang membuat cerita alur hidup tentangmu?” elakku.

 “Ah, terlalu banyak cerita berpusing di benaknya. Jangankan untuk memintanya. Memasuki alam pikirannya saja aku tak kuasa,” keluh sang putri menderita.

 Akhirnya kusampaikan keluhan sang putri pada ibu. Tapi apa jawaban ibu? Hanya anggukan dan senyum penuh arti balasannya sembari menatapku. Siapa yang tak makin penasaran dibuatnya ketika itu. Kini, aku pun seakan tahu bagaimana rasa gundah yang melanda jiwa sang putri ketika mengadu.

 Maka akhirnya aku tergerak untuk menulis kisah itu. Melanjutkan dongeng ibu, menuntaskan permintaan sang puteri yang ingin bertemu. Walaupun di lain waktu, ibu tetap terus mendongengkan cerita tentang puteri cantik itu kepadaku sebelum tidur. Namun bagiku, kisah sang puteri dan pangerannya kini ada dalam cerita khayalanku. Aku tahu, ibu masih terus menuliskan cerita novel tentang mereka meski telah berbuku-buku. Tapi, aku pun tetap menuliskan cerita dengan jalan ceritaku.

 Malam itu aku mencoba menulis lagi. Kerangka karangan yang kubuat siap menanti untuk diisi dengan rangkaian kata dan kalimat menjalin. Namun setelah semua usaha sudah kuraih, aku masih saja belum mampu menulis walau hanya sebuah kalimat berbait. Bukan satu atau dua jam keadaan itu berpilin. Setengah hari, ide ini ataukah ide itu menenggelamkanku dalam kecamuk pikir. Mata puteri itu berkaca-kaca menatap badai dalam alam kembara kisah tak bertepi. Ia meratap memohon untuk bersanding.

 Tapi sayang aku mengantuk. Aku ingin tidur. Semuanya itu masih terjaga mengawasiku di tepi tempat tidur. Tangis sang puteri terdengar mengiang berirama mengiringiku lenaku.

 Dalam tidur aku bermimpi semu. Sang puteri merengek sembari menarik-narik gaun tidurku. Ia memohon dan terus memaksa ingin bertemu. Aku menggeleng, bukan karena enggan untuk menurut. Tapi aku ingin kisahnya berakhir romantis dan runut . Juga bukan berdendang picis melulu.

 Aku berhasil melepaskan diri dan pergi meninggalkannya. Sampan tidur kukayuh mengembara ke dunia alam jagat mimpi tak bertuan. Dalam kalut aku teringat mata air kisah milik cerita Haroun And The Sea of Stories yang pernah kubaca. Menurut cerita yang ditulis oleh Shalman Rusdie, segala dongeng yang ada di negeri tempat Haroun tinggal, bersumber dari mata air itulah adanya.

 Dengan penuh semangat segera kukayuh sampan mengarah ke sana. Ku berharap dapat menemukan aliran mata air kisah milik sang putri yang kuharap ada. Tapi sayang, saat aku tiba di sana, kisah cerita yang ada sedang tercemar oleh ulah Khattam Shud yang membenci dunia cerita. Ini karena menurut Khattam Shud Sang Pangeran Kebisuan, cerita hanya membuat kacau tak berantah. Sebuah lautan cerita adalah sebuah lautan kekacauan. Haroun, putera Rasyid Khalifa sang pendongeng yang menjadi tokoh utama dari buku Haroun And The Sea of Stories itu pun menentangnya. Ia berjuang untuk membersihkan Lautan dan Sungai Cerita.

 Di aliran sungai yang berhulu pada Mata Air Cerita, aku dapati kisah sang puteri milikku berakhir jauh dari harapan. Ini akibat ulah Khattam Shud yang berhasil menodai Lautan dan Sungai Cerita. Dalam aliran kisah sungai cerita yang kukembarai itulah cerita hidup Sang Puteri akhirnya bertemu juga dengan pangeran pujaannya. Namun sang putri telah berubah. Puteri itu kini memiliki cambang dan kumis tak beraturan. Sekujur tubuhnya diselubungi bulu seperti kera. Tentu saja, pangeran menjadi takut, terkejut, dan kecewa. Begitu melihat genangan aliran Air Cerita dari Mata Air Cerita milik Haroun and The Sea of Stories, aku urung tuk sudi menggayung dan memilih pergi mengayuh sampan.

 Sampan mimpiku membawa aku kembali ke alam sadar. Lampu kamar kunyalakan. Masih pukul dua pagi dan hari belumlah bersinar. Aku melihat coretan-coretan yang belum usai kubuat. Ku coba mengingat-ingat mimpi yang berjalan saat ku tidur sebelumnya. Tak sadar, tanganku sudah menggores kata dan kalimat di lembaran-lembaran kertas. Kertas itu makin penuh dengan tulisanku yang bercerita.

 Di kala sadarku itu, aku tulis semua yang tadi berjalan di alam mimpiku. Tentang sungai air mata dan tentang Haroun yang mencoba membersihkannya hingga tak lagi keruh. Tentang cerita sang puteri yang terlanjur telah menjadi sebentuk cerita baru. Dengan berat hati, kutulis pula sang puteri yang berubah tubuhnya menjadi seperti kera berbulu. Tubuhnya menjelma seperti seekor kera karena telah salah menggunakan krim pemutih tubuh. Sementara itu sosok sang puteri membayang meraung menangis dalam benakku. Sedangkan sang pangeran di tengah rasa kecewanya akhirnya pergi juga meninggalkan sang puteri untuk mencari obat penyembuh.

 Tokoh puteri dalam cerita itu menggeleng kesal melihat ulahku. Dalam bayangan kelabu, ia berteriak keras memprotes, “Kau tak ubahnya seperti ibumu! Sudah rumit ibumu mengalurkan kisahku berlarut. Kini kau membuat kerumitan lain yang beda tapi sesungguhnya sama tak berujung. Sekali lagi, apakah yang sedang kau nikmati dari cerita hidupku?!”

 Kedua alisku bertaut. “Aku hanya ingin kau bertemu dengan pangeranmu dalam balutan kisah yang manis di ujung.” Tak bisa kupungkiri bahwa sesungguhnya memang ucapan sang puteri adalah kebenaran meski menurutku semu. Ku akui, aku telah menganakpinakkan alur kisah itu sendiri demi egoku.

 “Kau dan ibumu pasti anak buah Khattam Shud!” maki sang puteri menyudut.

 Aku tidak mengangguk. “Sejak awal sudah ku katakan padamu. Sulit untukku menolong alur ceritamu. Biarkan ibuku yang mempertemukan dirimu dengan sang pangeran pujaanmu,” aku berujar lanjut.

 Tapi puteri hanya ingin aku yang menyelesaikannya. Ia bosan dengan cara ibu yang mengulur-ulur waktu pertemuan mereka. Dan ia tak ingin aku demikian samanya.

 Entah kenapa aku memuncak muak. Banyak yang dipintanya dariku demi hidupnya. Dalam kesal, puteri itu kubunuh enyah. Ia mati dalam cerita. Kukisahkan, pada masa-masa penantiannya akan kedatangan sang pangeran, ia putus asa dan meneguk racun berbisa. Sang puteri membunuh dirinya. Sedangkan sang pangeran di rimba pencariannya tak kunjung menemukan obat yang dicarinya. Ia bertemu dengan siluman naga dan bertempur untuk memperebutkan sebuah mustika yang sanggup menyembuhkan penyakit sang puteri dambaannya. Sang pangeran akhirnya tewas terbunuh dalam pertempuran.

 Namun anehnya, ketika cerita itu usai ku buat dan aku tertidur lelap, di dalam mimpiku mereka tetap bersua. Mereka senang dan mengucapkan terimakasih justru kepada ibu dan tak menatapku sedikit jua. Aku hilang pikiran rasa, bagaimana kisah dongeng yang telah kuselesaikan itu berujung tak sama dalam mimpi ku punya.

 Paginya aku pergi ke kamar ibu. Kulihat wajah tidur ibu seputih kapas kala itu. Di sebelahnya ada lembaran-lembaran kertas yang ditinggalkannya sebelum tidur. Ku baca satu per satu tulisannya secara urut. Akhirnya kini ku tahu arti mimpiku semalam yang membuatku suntuk. Novel ibu telah usai berujung. Persis seperti mimpiku semalam yang bercerita tentang pertemuan pasangan tersebut. Aku tersenyum dan melirik ke arah ibu. Karena ibu telah mengaikhiri ceritanya itu, kini aku dapat lega karena tak lagi dikejar-kejar oleh sang puteri hingga ke tidurku. Lagipula, bagiku puteri itu sudah mati dalam cerita yang kubuat sendiri dalam alam tak tentu.

 Ibu masih terlelap dan belum menyadari kehadiranku. Namun entah, ada yang lain pada tidur ibu kali ini di mataku. Tangannya tertekuk di atas perut. Tubuhnya telentang tenang dengan dada membusung. Selimut terbentang hingga ke bagian dadanya yang terbungkus. Bibirnya tergaris senyum. Rambutnya terurai rapih namun kaku. Dada ibu tak bergerak naik turun.

 Sementara itu dalam kertas yang tergeletak di sebelahnya, ibu menuliskan kalimat, “Persembahan terakhir untuk putriku tercinta. Ku tahu sudah, engkau mulai menemukan makna dari teka tekiku semuanya.”

**

            Malam itu aku memutuskan meninggalkan pekerjaan menulisku yang membuatku lelah. Masih belum selesai semuanya. Pada styrofoam, ada selembar kertas yang berisi bermacam-macam ide tulisan yang masih belum ku kerjakan. Tapi aku harus terlelap. Semua itu harus belum selesai sekarang. Aku masih ingin memiliki kesempatan untuk membuat kehidupan seribu tahun lagi sejak sekarang. Arwahku selalu berkelana dalam lelap lena mimpiku untuk berkelana. Aku masih selalu ingin kembali dari kelanaku dan berjuang menyambung nyawa berkarya.

            Kebiasaan ibu pun ternyata kini menjadi kebiasaan ku juga. Kini ku tahu, ketika aku berada dalam ambang batas sadar, ketika aku mencoba melonggarkan kepenatan yang ada dalam benak, justru di situlah aku bisa menemukan nyawa baru untuk setiap nafas cerita.

October 14, 2006

Sepatu Karet


 Aku sebetulnya nggak tahu nama sepatu ini sesungguhnya apa. Cuma karena melihat bentuknya yang terbuat dari karet itulah lantas aku menyebutnya sepatu karet.

 Pertama kali waktu melihatnya di Singapura, sebetulnya terbersit kesan lucu juga. Udah bentuknya besar jika dibandingkan dengan sepatu biasa, warna-warnanya pun kebanyakan ngejreng. Walaupun sebetulnya, ada juga sih yang warnanya natural seperti putih.

 Tapi waktu melihat beberapa orang Singapura memakainya dengan enjoy, di MRT, di mall, kok jadi kepikiran ingin punya juga ya. Karena prefesiku reporter dan sering mau nggak mau harus bertempur dengan hujan, aku pikir sepatu ini benar-benar sesuai dengan kebutuhanku.

 Setelah tekad bulat ingin memiliki sepatu itu muncul, mulailah aku membuka mata untuk mencari dimana sepatu karet itu dijual. Dan, ketemulah sebuah toko sport yang berada di Pelabuhan Marina Singapura. Namun waktu melirik harganya, alamak, kok mahal sekali. Jadi tertundalah niatku untuk membeli sepatu karet itu.

 Sampai di Batam, mau tak mau akhirnya aku membeli sebuah sepatu yang kunilai cocok untuk suasana hujan dan panas. Bentuknya feminin, dan kalaupun kena hujan nggak bakal menyusahkan karena bahannya yang tidak menyerap air.

 Tapi siapa bilang. Setelah sebulan memakai sepatu itu, masalah klasik pun muncul kembali. Yah, namanya juga sepatu bukan untuk tahan air, bagian alas dari sepatu ini ketika terkena air malah mengelupas dan hilang lemnya. Akibatnya kalau dipakai dan waktu aku ingin mencopot sepatu, bagian alasnya ikut-ikutan tertarik keluar. Belum lagi karena kerjaanku yang harus naik motor dan sering bergerak untuk memindah gigi atau menginjak rem. Sepatu baruku itupun mengelupas di bagian ujungnya. Duh sedihnya...

 Tapi ketika aku sedang bermasalah dengan sepatu itu, ternyata sosok sepatu karet muncul kembali. Tanpa sengaja ketika sedang berjalan-jalan dengan teman, sepatu karet itu kutemukan tergantung di bagian sepatu yang dijual sebuah departemen store.

 Jangan ditanya bagaimana girangnya aku saat itu. Sudah warna dan coraknya macam-macam, harganya pun cuma di bawah seratus ribu rupiah! Maka waktu gajian bulanan tiba, sepatu itu langsung kubeli. Warna pilihanku biru cenderung ungu dengan corak bunga-bunga berukuran besar berwarna merah kuning hijau. Ngejreng kan?

 Tapi aku tidak menyangka, kepercayaan diriku untuk membeli sebuah sepatu berwarna ngejreng itu membuat seisi kantorku heboh. Ada yang mengolok-olok karena bentuknya yang besar dan tidak balance dengan tubuhku saat dipakai, ada yang memuji bagus walau dengan wajah takjub (mungkin heran, kok ada ya orang berani pakai sepatu itu ke kantor), atau ada juga yang lantas berpikir akan membelikan anaknya yang masih kelas satu SD untuk dipakai pas lebaran nanti.

 Tapi dari semua komentar itu, aku selalu menjawabnya dengan seperti ini, “Habisnya kan di Batam yang namanya hujan dan panas nggak pasti, sepatu ini jadi cocok banget lho. Sudah murah, awet, enak dipakai lagi,” kataku berpromosi meski memang jujur, itulah alasanku membeli sepatu karet itu.

 Kalau bercerita tentang reaksi teman sekantorku, aku jadi teringat sebuah kejadian. Ceritanya suatu ketika ada teman kantor yang awalnya ingin mengajakku jalan-jalan ngabuburit, hampir urung ketika melihatku menggunakan sepatu itu. “Aduh, ganti sepatu lah. Aku nggak mau kalau kamu pakai sepatu itu. Udah warnanya ungu janda lagi!” protes temanku. Walau sempat berdebat sengit, akhirnya ia jadi mengajakku ke pasar kaget yang banyak ada di bulan ramadan. Yah kalau dipikir-pikir, apa iya norak banget sih?!

 Dan kondisi kantor yang ‘heboh’ karena sepatu karetku itu ternyata bertahan sampai sekitar satu mingguan. Aku sendiri sih merasa pede-pede saja. Hitung-hitung menjadi trend setter kan?!

 Cuma kepedeanku kadang tidak begitu banyak ada ketika aku menghadapi nara sumber. Ketika wawancara, kadang ku tahu mata mereka tertuju ke arah sepatu karetku dengan warna ngejrengnya. Reaksinya macam-macam. Ada yang pura-pura masa bodoh, tapi ada juga yang nyeletuk bertanya.

 Seperti ketika aku mewawancara desainer interior berusia muda saat meliput masalah interior. Suatu ketika saat aku memutus sesaat wawancara untuk menerima telepon dari ponselku, matanya tanpa sengaja melirik ke arah sepatu karet yang kupakai. Bisa ditebak, seusai aku menelepon, ia langsung mengomentari sepatuku.

 “Ngomong-ngomong sepatumu itu kamu painting sendiri ya?” katanya heran terlihat dari raut wajahnya namun dengan nada bicara yang datar.

 Tentu saja mendengar itu aku langsung tertawa terbahak-bahak. Pikirku, mana ada sih orang terlalu rajin sampai mempainting sepatunya sendiri! “Oh nggak Mas, memang sudah dari tokonya seperti itu,” jawabku sembari menjelaskan alasanku sejujurnya kenapa membeli sepatu itu.

 “Ooo, gitu ya. Soalnya saya kemarin juga sempat ingin beli sepatu itu. Tapi ukurannya nggak ada yang pas,” katanya manggut-manggut. “Oh, jadi ada yang punya corak seperti itu?” katanya masih dengan mimik takjub.

 Dan jadilah di tengah-tengah wawancara itu kami sesaat membicarakan masalah sepatu karet. Mulai dari menjelaskan keunggulannya sampai pilihan warna dan coraknya. Duh, duh, kadang-kadang jadi berpikir, kok kenapa jadi aku yang promosi gencar-gencaran ya? Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa nggak sih jika memang itu bisa bermanfaat untuk orang lain. Iya kan?!

My Photo

Photo Albums

May 2007

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31    
Powered by Friendster Blogs